Oleh
: Muhammad Fauzi
Masyarakat
merupakan sebuah komponen desa yang menjadi penggerak utama di tempat
tinggalnya untuk menggali segala potensi desa (sumberdaya alam) dalam
melangsungkan hidup. Namun, wawasan masyarakat yang berada di desa tidak akan
semaju dan seluas wawasan masyarakat yang tinggal di perkotaan yang dekat
dengan segala akses informasi dan teknologi. Namun, pengetahuan luas dibutuhkan
masyarakat dalam mengembangkan potensi desanya.
Bagaimana
masyarakat desa menggali dan mengembangkan segala potensi desa yang tersedia di
alam jika masyarakat ini belum ter-edukasi dengan pendekatan pendidikan,
teknologi dan informasi tanpa harus mengikis aspek budaya, sosial dan ekologi
desa. “Karena, masyarakat..” seperti yang didefenisikan oleh John J. Macionis
(1997) bahwa “adalah orang-orang yang berinteraksi dalam sebuah wilayah
tertentu dan memiliki budaya bersama. Apabila masyarakat ini digerakkan secara
bersama-sama dengan pendekatan empat aspek di atas maka masyarakat ini akan
semakin maju. Dan ini akan tersalurkan dengan mengendarai sebuah kenderaan
komunitas yang memiliki visi-misi mulia untuk membantu masyarakat desa untuk
berkembang, maju dan memiliki ciri khas dari desa itu sendiri.” Sehingga para
pengembang komunitas dibutuhkan masyarakat.
Kita harus yakin dengan pengembangan
masyarakat berbasis komunitas bisa menjadi salah satu cara untuk membantu
masyarakat yang tinggal di pelosok desa yang notabene dengan sumber
penghidupannya adalah kegiatan pertanian. Seperti halnya pengabdian-pengabdian
kepada masyarakat yang sudah lama ini dilakukan oleh kampus-kampus perguruan
tinggi kita di seluruh nusantara Indonesia. Mengunjungi daerah terpelosok, atau
yang disebut dengan daerah 3T (terdepan, terluar dan teringgal). Daerah-daerah
inilah yang patut kita kunjungi dan sharing
ilmu-pengalaman antara masyarakat akademisi dengan masyarakat lapangan (petani).
Dengan
tridarma perguruan tinggi pada poin pengabdian adalah salah satu cara kita dalam
mensinergikan program-program pemerintah dalam mengembangkan masyarakat desa.
Begitu juga dengan komunitas-komunitas yang sudah ada tentu memiliki visi-misi
untuk mengembangkan masyarakat desa. Supaya masyarakat desa yang jauh dari
peradaban perkotaan yang jauh lebih lambat pertumbuhannya ekonominya, menjadi
salah satu peluang untuk ambil bagian dalam memajukan negeri yaitu kembali
mengabdi ke desa-desa. Makanya, tidak salah ketika para dosen-dosen di
perguruan tinggi mengeluarkan nasihat bijaknya, “kembalilah ke daerah asal.”
Banyak sudah putra daerah yang sampai pada pendidikan tinggi untuk dikirimkan
kembali ke daerah asalnya. Kita yakin, ketika putra-putri daerah kembali lagi
ke daerah akan menjadi agen developer yang
bermanfaat bagi desanya.
Tentu
bukan untuk berkompetisi. Akan tetapi lebih berkolaborasi. Karena semangat
kegotong-royongan yang didengung-dengungkan oleh para leluhur terdahulu bahwa
benar-benar menjadi sebuah kekuatan untuk menghasilkan karya yang bisa
dimanfaatkan bersama dengan masyarakat. Integrasi adalah sebuah poros yang bisa
disambungkan antara masyarakat dengan pemerintah. Memulai dari desa bersama
masyarakat desa adalah suatu kerja yang terintegrasi dengan pemetintah dalam
membantu mengembangkan desa menuju pembangunan negeri.
Seperti
yang dikatakan oleh Fredian Tonny Nasdian pemilik nama lengkap dari penulis
buku yang berjudul “Pengembangan Masyarakat” dalam bahasa pengantar yang
disampaikannya bahwa pengembangan masyarakat (community development) merupakan suatu proses swadaya masyarakat
yang diintegrasikan dengan usaha-usaha pemerintah setempat guna meningkatkan
kondisi masyarakat di bidang ekonomi, sosial, politik, dan kultural, serta
untuk mensinergikan gerakan untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa. Perlu
pendekatan kepada masyarakat bahwa untuk bergerak perlu pengorbanan di awal
dengan mengoptimalkan swadaya masyarakat. Artinya potensi desa dikembangkan
oleh masyarakat setempat tanpa harus menunggu uluran bantuan dari pemerintah.
Kolaborasi : Bergerak Bersama
Bergerak bersama dengan masyarakat
dalam mengembangkan desa seperti yang
telah dilakukan oleh salah satu komunitas Agr.village (agriculture village) di salah satu desa dipinggiran Kota Bandung
merupakan salah satu cara dalam mengkolaborasikan ide-ide pengabdian. Agr.village
(agriculture village) merupakan komunitas
yang digagas oleh salah satu alumni Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran,
Bandung. Muhammad Fauzi sebagai founder komunitas
yang baru berusia 4 bulan dan saat ini masih beraktifitas di desa pengabdian.
Sejauh berkegiatan di desa Cipulus kelurahan Cisurupan kecamatan Cibiru Kota
Bandung sudah dapat menganalisa potensi-potensi desa yang selama ini masyarakat
belum maksimal dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia di desa tersebut. Meskipun sudah beberapa program perguruan
tinggi di desa yang sama. Namun, dengan kehadiran komunitas ini bisa berfungsi
sebagai media transfrer ilmu yang dapat membantu masyarakat dalam mengembangkan
desa tertinggal menjadi desa yang berkembang, maju dan mandiri.
(Beberapa pengurus agr.village pada saat pelatihan biogas di Little Farmer, Lembang)
Salah satu contoh yang bisa
dijadikan sebagai desa yang mempunyai potensi mandiri dibidang energi adalah
Desa Cipulus. Desa ini tercatat masih masuk kawasan teritorial Kota Bandung
sebahagian besar profesi masyarakatnya adalah petani dan peternak sapi. Hasil
wawancara anggota agr.village dengan ketua kelompok tani Putra Manglayang I
oleh Pak Aceng. “Hampir setiap rumah itu
memiliki sapi minimal 2 ekor sapi sampai 20 ekor sapi. Bahkan ratusan juga.
Tapi, secara pengolahan limbah kotoran sapi kami belum maksimal. Banyak sekali
kotoran sapi yang dibiarkan begitu saja kalau musim hujan tiba.” Inilah potensi
yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan dasar biogas.
Bersama Yayasan Sahabat Cita dan
Primary Indonesia, komunitas agr.village bergerak bersama dengan menjalin
kerjasama dalam merubah pola pikir masyarakat desa tersebut untuk peka terhadap
lingkungan. Tentu dimulai dari lingkungan rumah terdekat. Pada dasarnya kedua yayasan tersebut adalah
sebuah yayasan yang bergerak dibidang sosial masyarakat dalam hal pengembangan
masyarakat desa. Oleh karena itu, kolaborasi ketiga yayasan dan komunitas ini
bisa menjadi sebuah suplay energi
yang lebih besar untuk menggerakkan masyarakat untuk kembali ke alam dan
mencintai alam sehingga semuanya termanfaatkan atau zero waste.
Jika ditilik dari hukum agama. Hampir semua agama
mengajarkan untuk menjaga alam. Karena agama juga mengajarkan tentang prinsip
agama hijau. Artinya, bahwa di dalam ajaran agama Islam misalnya bahwa manusia
diutus ke bumi untuk menjadi khalifah untuk sekalian alam. Kalau istilah bagi
penggerak lingkungan itu sebagai kegiatan lingkungan. Menjaga dan mengelola
bumi untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan memperhatikan keseimbangan alam. Salah
seorang pencetus gerakan prinsip agama hijau oleh seorang muslim New
York-Amaerika Serikat, Ibrahim Abdul-Matin telah menuliskan tentang prinsip
agama hijau dalam bukunya yang berjudul “Greendeen” dijelaskan bahwa Islam dan
gerakan lingkungan memiliki banyak kesamaan. Masing-masing tahapan mengandung
unsur-unsur yang mencerminkan enam prinsip Agama hijau: pemahaman mengenai
kesatuan Tuhan dan ciptaan-Nya (tawhid);
peran manusia sebagai penjaga (khalifah)
bumi; perjuangan mewujudkan keadilan (adl);
dan kehidupan yang selaras dengan alam (mizan).
Dari prinsip-prinsip di atas dapat dihilat sebagai upaya untuk memulihkan
keseimbangan dan keadilan bagi bumi setelah perusakan lingkungan yang
diakibatkan perilaku konsumsi yang berlebihan.
Dari sinilah, banyak yang bisa dilakukan untuk
mengabdi kepada masyarakat tanpa harus menunggu banyak biaya yang harus
dikeluarkan. Menggali potensi alam yang sifatnya berupa sesuatu barang atau
benda yang tidak berguna, dimanfaatkan dan dikembangkan untuk menghasilkan
sesuatu yang baru kemudian dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Adalah sebuah
terobosan yang sangat efektif untuk masyarakat manfaatkan tanpa mengecualikan
kepentingan ekologi.
Komunitas agr.village sudah melakukan penyuluhan
pemanfaatan limbah kotoran sapi sebagai bahan dasar biogas skala rumah tangga.
Hasil samping berupa kotoran sapi dari kandang ternak sapi bisa menjadi sebuah
aset sebagai bahan dasar biogas. Desa Cipulus tepatnya di RW 10 adalah salah
satu contoh yang sudah dibangun reaktor biogas yang menggunakan bahan dasar
limbah kotoran sapi. Belajar teknologi biogas dari sang ahlinya yaitu Bapak
Andrias Wiji seorang alumni Teknik Kimia ITB Bandung sebagai pencetus teknologi
reaktor biogas dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi atau limbah hewan
mamalia lainnya adalah suatu kesempatan sangat besar untuk membantu
menyampaikan informasi dan teknologi kepada masyarakat di seluruh Indonesia
yang daerahnya potensial untuk dikembangkan menjadi sebuah desa yang mandiri
akan energi. Energi ramah lingkungan. Teknologi yang sangat relefan terhadap
ekologi, ekonomi dan sosial masyarakat. Namun, relefan akan ekonomi masih
menjadi tantangan buat masyarakat desa untuk bisa memilikinya karena harganya
yang terbilang mahal mulai di harga dikisaran 4,5 juta rupiah. Tapi alat ini
bisa berfungsi dengan jangka waktu 7-8 tahun tergantung dari pemeliharaan alat
reaktor tersebut.
Menjawab problem
pendekatan ekonomi ini-lah menjadi ladang amal pada sesama untuk menggalang
dana dari orang-orang disekitar yang memiliki rezeki berlebih dan ingin sekali membantu masyarakat desa.
Bantuan dari donatur ini seperti yang digalan oleh agr.village diserahkan oleh
komunitas agr.village dalam bentuk barang kepada masyarakat desa yang
membutuhkan. Pemberian bantuan kepada masyarakat yang harganya mahal ini bukan
berarti ingin memanjakan masyarakat sebagai penerima. Tetapi kita membangun
pola yang serangkai menuju pada penyadaran masyarakat. Misalnya, satu desa
menjadi objek desa untuk dikembangkan menjadi desa mandiri energi. Desa
penerima akan dibangun sebuah reaktor biogas (salah satunya). Satu-satunya alat
yang dipasang akan menjadi tempat belajar masyarakat tentang pemanfaatan limbah
kotoran sapi. Dari sinilah, kita berkeyakinan, masyarakat akan terpikat dan mau
menggunakan alat secara swadaya dan semakin banyak masyarakat yang berminat dan
menggunakannya.
Berpacu pada sistem ekologi seimbang. Pemanfaatan
limbah kotoran sapi bisa menjadi satu cara dalam menjaga lingkungan dan ikut
berperan serta dalam mendukung usaha-usaha pemerintah salah satunya adalah program
hemat energi. Masyarakat peternak sapi dapat ambil bagian dalam program baik
tersebut.
Tak sebatas bisa masak di rumah saja untuk
sehari-hari. Gas yang dihasilkan lumayan besar akan menjadi peluang lahan
ekonomi bagi masyarakat kecil kita sebagi pengguna alat tersebut. Bahan bakar
gas ini akan menunjang ekonomi kreatif masyarakat sebagai penunjang usahanya.
Gas yang berlimpah akan dimanfaatkan untuk digunakan sebagai bahan bakar
pemasak produk-produk olahan makanan yang bisa dipasarkan. Karena untuk sebatas
masak saja akan sangat berlebih sehingga dimanfaatkan untuk bahan bakar
pengolahan bahan makanan. Sumber ekonomi masyarakat akan bertambah dari
efektifitas gas yang dimanfaatkan. Selain itu juga, masyarakat dapat mengolah
dan mengemas limbah gas tersebut berupa bubur kotoran sapi sebagai pupuk
organik. “Masyarakat hanya perlu mengolah limbahnya kemudian packaging yang bagus sehingga dapat
dipasarkan.” Kata Bapak Dandi Budiman, S.P. selaku owner Primary Indonesai sebagai mitra agr.village.
Begitulah sederhananya, peran komunitas agr.village
pada masyarakat untuk membantu masyarakat desa menggali potensi alam desanya
kemudian mendampingi sampai pada tahap pengolahan hingga pemasaran. Bersumber
dari alam, diolah dan dimanfaatkan
dengan memperhatikan alam. Integrasi yang baik dalam mengembangkan
masyarakat untuk ikut serta menikmati kemajuan teknologi dengan pendekatan sosial,
ekonomi, budaya dan ekologi.
Terhampar ratusan ribu desa di pinggiran kota sampai
terpelosok nusantara. Ketika kita sadar dan ambil bagian dalam mengembangkan
desa, maka kita sudah turut serta mengabdi pada negeri. Seperti tagline-nya agr.village, “Menmbangun
desa, mengabdi untuk negeri.” Semoga kita para peduli pengembang masyarakat,
baik dari mana pu sisi ilmunya. Mari sama-sama kita ulurkan tangan kita sampai
jarak terjauh dari pandangan mata. Sehingga banyak perubahan-perubahan yang ke
arah lebih baik yang terjadi di negeri ini. Tentu dirasakan oleh masyarakat di
seluruh nusantara.


No comments:
Post a Comment