Oleh
: Muhammad Fauzi – Komunitas agr.village
(Foto
bersama pegiat agr.village dengan Bapak Andrias Wiji, S.T. (Tengah kemeja
kotak-kotak
merah selaku pencetus dan pengembang reaktor biogas) pada saat pelatihan biogas)
Bergerak
ke lingkungan masyarakat secara langsung adalah impian setiap mahasiswa yang
memiliki jiwa semangat berbagi kepada masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh
kumpulan mahasiswa yang tergabung dalam satu komunitas yang bernama agr.village
(Agricultural Village). Berawal dari
ilmu yang didapatkan oleh Muhammad Fauzi yang akrab disapa Uji selaku founder
komunitas itu berasal dari mata kuliah SPB-2 (Sistem Pertanian
Berkelanjutan) di Fakultas Pertanian Unpad, tercetus ide untuk membuat
komunitas baru yang concern pada
lingkungan, pertanian, peternakan dan pendidikan. Inilah yang dilakukan oleh
salah satu alumni Faperta Unpad angkatan 2010 bersama 25 mahasiswa Unpad
lainnya yang memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda dari Fakultas
Pertanian dan Departemen Biologi FMIPA Unpad yang memiliki cita-cita bersama
dalam membangun desa.
Komunitas
yang baru berusia 6 bulan ini telah melakukan aksi nyata pengabdian
masyarakatnya disalah satu desa pinggiran kota Bandung. Tepatnya di Desa
Cipulus Kecamatan Cisurupan Kota Bandung telah dipasang sebuah reaktor biogas. Desa
yang berada tepat di kaki Gunung Manglayang ini memiliki potensi peternakan
yang lumayan bagus untuk mendukung sekali desa tersebut menjadi desa mandiri
energi. Mandiri energi yang dimaksud adalah mengolah limbah peternakan berupa
kotoran sapi yang selama ini belum banyak dimanfaatkan untuk difungsikan ke hal
yang lebih bermanfaat selain dijadikan pupuk organik. Yaitu diolah menjadi
bahan dasar biogas dengan bantuan reaktor biogas.
Teknologi
yang semakin maju tak selamanya tidak sesuai pada kondisi ekologi, sosial, dan
budaya masyarakat desa. Reaktor biogas misalnya. Reaktor berukuran diameter 2
hinggga 2,5 meter dan tinggi 1,8-2 meter ini sangat memungkinkan untuk
diperkenalkan ke masyarakat desa. Reaktor tersebut hanya memerlukan lahan
seluas 8-10 meter persegi ini tidak akan merusak lingkungan dan sangat mudah
dalam pemeliharaan. “Bahkan lingkungan kandang ternak sapi akan semakin bersih.
Kotoran sapi tidak lagi menumpuk karena belum dimanfaatkan karena jumlah yang
melimpah. Serta, di atas lahan biogas masih difungsikan sebagai lahan
pertanaman sayur-sayuran.” Tegas Pak dandi Budiman, S.P. selaku mitra
agr,village dari Primary Indonesua. Kotoran sapi akan bisa dimanfaatkan tidak
hanya sebatas bahan pupuk organik, tetapi bisa menjadi bahan dasar pembentukan
biogas dengan bantuan reaktor biogas.
Adanya
teknologi biogas ini diharapkan dapat membantu ekonomi rakyat yang saat ini
sedang dihadapkan dengan berbagai kenaikan harga bahan pokok akibat invasi dari
mahalnya harga BBM (bahan bakar minyak). Keuntungan masyarakat dengan
menggunakan reaktor biogas akan bertambah dan justru akan membuka sumber rezeki
baru. Alasannya, gas yang dihasilkan dari reaktor per harinya bisa mencapai 1-3
jam untuk memasak. Tergantung pada tegangan gas yang dihasilkan. Dari limpahan
biogas tersebut tidak hanya mampu memasak keperluan sehari-hari seperti
keperluan memasak nasi dan lauk. Justru bisa dimanfaatkan kembali untuk memasak
makanan yang lain sifatnya untuk komersial.
(Dokumentasi
agr.village bersama warga desa Cipulus
pada
saat pemasangan reaktor biogas)
Agr.villagers
selaku panggilan bagi para mahasiswa yang tergabung di dalamnya telah
merencanakan akan melakukan penyuluhan tentang pemberdayaan ekonomi dengan
memanfaatkan limpahan gas untuk difungsikan memasak makanan yang sifatnya
komersil untuk dijadikan sebagai tambahan pendapatan para ibu-ibu di desa
binaan. Selain itu, limbah biogas yang sudah terfermentasi secara alami di
dalam reaktor biogas akan dikeringkan kemudian dikemas untuk dijual oleh para
pemuda di desa Cipulus. Jadi, ada dua manfaat yang didapatkan dari pengembangan
reaktor biogas di desa-desa terpinggir yang memiliki potensi desa untuk
dijadikan desa mandiri energi. Yakni, selain akan mandiri energi juga membuka
lapangan kerja baru bagi masyarakat pengguna reaktor biogas.
“untuk
tahap pertama, kita cukup memasang satu reaktor biogas saja. Karena kita yakin,
keberhasilan dari satu reaktor akan dilirik oleh masyarakat lain untuk dipasang
di tempat mereka. Sehingga semakin banyak yang berminat untuk mempunyai alat
yang sama. Jadi cukup satu sebagai pemantik bagi warga desa.” Kata Muhammad
Fauzi pada saat pemasangan reaktor biogas di Desa Cipulus.




No comments:
Post a Comment